Showing posts with label Intermezzo During The Hike. Show all posts
Showing posts with label Intermezzo During The Hike. Show all posts

Saturday, 16 October 2010

Do This Right

-16 October 2010-

Thursday, 13 November 2008

Jadi.. Tadi Malam Itu Siapa???

Di antara bunyi jangkrik dan burung hantu, Dewo mengerutkan kening, berusaha menajamkan pendengarannya. Untuk sejenak pemuda itu menengok kanan-kiri berusaha untuk memastikan arah suara yang baru saja didengarnya.

Setelah beberapa saat berlalu, dan tidak terdengar apapun selain suara satwa malam, Dewo-pun menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Ia berbisik pada dirinya sendiri, “Gak mungkinlah Riska keluyuran malam-malam begini!”

Dewo-pun kembali berkonsentrasi pada kegiatan yang sebelumnya sedang ia kerjakan di tengah semak, di balik batu besar ini.. melegakan perutnya setelah makan malam tadi.

Baru saja Dewo bangun dari berjongkok, ia langsung beradu tatap dengan seraut wajah di hadapannya, Riska.

“WAA!! RISKA!! Ngapain sih lo?! Mau bikin gue pingsan?!” Dewo mengomel, antara terkejut dan sedikit jengah karena ia belum sepenuhnya merapikan celana jeansnya. Bergegas ia menarik retsleting dan beranjak keluar dari semak.

Riska hanya terdiam memperhatikan Dewo yang panik dan salah tingkah.

“Ris! Lo ngapain di sini? Mana Echa? Orang kemping, apalagi cewek, gak boleh keluyuran sendirian! Buang air juga harus ada temennya! Lo kan tau itu, Ris!”

Riska menjawab tenang, “Kan elo juga lagi di sini..”

Dewo mengerutkan kening, “Lo gak sakit kan, Ris? Masa’ lo buang air, gue yang nemenin?”

Lagi-lagi Riska menjawab tenang dan datar, “Yang lain lagi pules banget. Kasihan kalo dibangunin.”

Dewo menghela nafas. Penjelasan Riska ada benarnya juga. Dewo-pun mengalah, toh ia bukan cowok iseng, “Ya udah sana! Gue tungguin di sini. Kalo perlu gue, panggil aja!”

Riska mengangguk pelan, “Thanks.”

Dewo memperhatikan Riska yang melangkah memasuki semak. Ada sesuatu yang aneh, tapi Dewo tak mengerti apa tepatnya. Dewo merasa Riska terlihat sangat tenang, jauh berbeda dari keseharian gadis itu yang selalu lincah dan ceriwis, terlebih lagi, Riska tidak terlihat seperti orang yang menahan sakit perut karena ingin buang air.

“Ris.. Riska! Udah belum? Udah ¼ jam.. Lo gak kenapa-kenapa kan?”

“Sebentar.. udah mau selesai..” Kembali suara Riska terdengar tenang menjawab.

Tak sampai 3 detik kemudian, Dewo kembali tersentak mendengar suara Riska, tepat di hadapannya, “Udah, Wo. Ayo balik!”

Dewo memicingkan matanya menatap semak-semak di belakang Riska. Tadi ia bisa melihat dengan jelas Riska melangkah memasuki semak, tapi kenapa ia sama sekali tidak melihat Riska melangkah keluar dari semak dan berjalan ke arahnya? Begitu bertambah gelapnyakah malam, hingga suasana tak lagi tertangkap jelas oleh matanya?

Dewo menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha mengusir berbagai kelebat teori aneh yang melintas di kepalanya. Ia menatap Riska selintas lalu memberi isyarat pada Riska untuk mulai berjalan menuju area perkemahan.

Tiba di perkemahan, Riska langsung duduk di dekat api unggun.

Dewo sedikit heran melihat Riska, “Gak balik ke tenda? Masih jauh ke pagi, Ris! Mendingan tidur lagi!”

Riska menggeleng, “Pengen duduk di sini.”

Dewo tak sampai hati membiarkan Riska duduk sendirian di luar tenda pada tengah malam seperti ini. Mungkin saja apa pikiran yang mengganggu gadis itu, “Kenapa lo, Ris? Cerita, Ris.. Siapa tau gue bisa bantu.”

Riska tersenyum, “Besok lo balik kan?”

Dewo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Lo nanya seperti gue doang yang balik! Lo kan juga besok balik, Ris!”

Riska tersenyum, “Setiap kali di sini rame, gue seneng.. Biarpun cuma 1-2 hari, tapi, gue gak ngerasa kesepian.”

Dewo menatap Riska bingung, “Setiap?? Emangnya udah berapa kali lo ke sini, Ris? Perasaan gue, sebelum berangkat kemarin, lo tanya-tanya ke gue arah jalan ke sini! Gue kira ini pertama kalinya lo ke sini.”

Riska hanya terdiam menatap api unggun sambil tersenyum tipis. Wajahnya tampak menerawang.

Dewo ikut menatap api unggun untuk sejenak, lalu menoleh pada Riska, “Ris, lo bener gak sakit kan? Gak demam? Gak kedinginan?”

Riska menggeleng sambil terus menatap api unggun. Kemudian gadis itu mulai bertutur, “Banyak sebenarnya orang yang sering datang ke sini. Tapi, gak semuanya punya niat baik. Kalo lo dan teman-teman lo, sejak pertama kali ke sini selalu rajin ngumpulin sampah, nanam bibit pohon, bikin bazaar amal untuk penduduk sekitar.. tempat ini jadi rapi.. gue senang.”

Dewo menghela nafas, “Ah, lo kebanyakan dengerin omongan anak-anak, Ris! Ini kan pertama kalinya lo ke sini, baru kali ini lo lihat kegiatan kita-kita di sini.. Dulu-dulu suka ada juga yang bandel-bandel kok, tapi mereka langsung kena penalti dari Echa dan Lukman!”

Riska tersenyum, “Kelakuan anak-anak yang dihukum sama Echa dan Lukman itu gak seberapa. Gue bahkan gak terlalu tertarik untuk menghukum mereka. Nebang ranting pohon untuk kayu bakar, ngebendung sungai selama perkemahan biar bisa makan ikan.. itu gak terlalu bikin masalah. Kelompok lain banyak yang bikin masalah lebih besar, tapi bukan Echa dan Lukman yang menghukum mereka!”

Lagi-lagi Dewo menatap Riska dengan kening berkerut. Omongan gadis ini benar-benar aneh, walaupun ia tidak terlihat sakit. Entah siapa yang dimaksud oleh Riska sebagai orang-orang yang membuat masalah besar di tempat ini, dan siapa yang menghukum mereka, Dewo benar-benar tidak mengerti. Dari mana Riska tau tentang semua ini, Dewo lebih tidak mengerti. Pemuda itu tak tau harus menjawab apa pada Riska, atas kata-kata gadis itu tadi, maka ia hanya terdiam saja menatap api unggun.

Dalam keheningan itu, tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya dari belakang. Saat Dewo menoleh untuk melihat, wajahnya langsung berubah pucat pasi, menyadari siapa yang berdiri menatapnya, Riska dan Echa!

Dewo langsung menatap ke arah dimana Riska tadi duduk saat berbincang dengannya sambil menatap api unggun, tidak ada siapa-siapa di situ. Dewo langsung kembali menatap Riska dan Echa dengan mata terbelalak dan hati berdebar kencang yang membuat pemuda itu tak dapat berkata-kata untuk beberapa saat.

Riska dan Echa menatap Dewo keheranan. Riska meringis tipis sambil memegangi perutnya.

“Lo kenapa, Wo? Ngapain lo malam-malam begini duduk di depan api unggun sendirian?” Echa bertanya dengan kening berkerut.

Tergagap Dewo menjawab, “Lo berdua ngapain keluyuran di luar tenda?”

Echa menunjuk Riska yang masih meringis, “Nih, si Riska sakit perut! Untung juga lo belum tidur. Temenin gue nungguin Riska ya, Wo!”

Dewo mengangguk sedikit kaku. Kemudian, pemuda itu berjalan mengikuti langkah Echa dan Riska ke arah semak-semak tak jauh dari situ.

Keesokan paginya, Dewo duduk bersama Echa, Riska dan Lukman saat menyantap sarapan. Echa dan Riska terkekeh setelah Dewo selesa bercerita.

“Jadi, lo semalam diajak kenalan sama cewek asli sini yang wajahnya persis sama Riska?” Echa bertanya di antara tawanya.

Dewo sedikit bergidik mengingat alur kejadian yang dialaminya semalam. Dengan segan ia mengangguk-angguk.

“Trus, gue.. eh cewek itu, cerita apa aja sama lo, Wo? Dia tau rahasia gue gak?” Riska bertanya sambil cengar-cengir.

Dewo segera menelan makanan yang sedang berada di mulutnya, “Nggak, Ris.. Nggak! Dia cuma bilang kalo kelompok kita ini gak bikin masalah di sini dan malah bikin area sekitar sini lebih rapi.”

Echa dan Riska mengangguk-angguk, “Oooo... gitu. Kalo begitu, mungkin dia pengen kenalan aja kali, Wo.”

Dewo mengangkat bahu, “Iya, kali..”

Riska bertanya lagi, untuk mengganggu Dewo, “Trus, kalo lain kali dia ngajak lo ngobrol lagi gimana, Wo? Lo kan hobi banget ke sini.”

Dewo menghela nafas panjang, “Kalo di antara lo nemuin gue pingsan di tengah semak, bawa gue balik ke tenda aja deh!”

Lukman terkekeh melihat ekspresi pasrah Dewo, “Dewo.. Dewo! Ada-ada aja lo! Bertahun-tahun naik gunung, kemping.. baru sekarang diajak kenalan sama warga lokal.”

Dewo hanya bisa melengos salah tingkah sambil berjalan ke arah tendanya untuk membereskan barang-barangnya dan bersiap-siap untuk pulang siang hari itu.

Siangnya, setelah seluruh anggota perkemahan dan barang-barang mereka sudah berada di bis, Dewo menebarkan pandangannya ke sekeliling area perkemahan yang sudah kembali bersih dan rapi seperti pada saat mereka tiba di tempat itu tiga hari yang lalu.

Dalam keheningan suasana, Dewo merasakan angin semilir melintas menerpanya dan ia seolah merasakan ada seseorang berdiri di dekatnya, diikuti dengan bulu kuduk Dewo yang sedikit meremang.

Sesaat kemudian, terdengar kembali suara tenang dan datar yang ia dengar semalam, suara gadis yang wajahnya persis dengan Riska, “Terima kasih, Dewo, kamu sudah mau menemani aku tadi malam. Jangan takut kalau lain kali kamu ke sini, kamu ketemu aku lagi. Aku hanya ingin ngobrol dan aku senang ngobrol dengan kamu.”

Dewo tak tau mau menjawab apa, ia hanya dapat memberanikan diri untuk menoleh ke sampingnya, tapi tak ada siapa-siapa di situ. Kemudian ia membalikkan badan dan mulai berjalan ke arah bis.

Sambil berjalan, Dewo menyempatkan menoleh sejenak ke belakang, ke arah pepohonan dan semak-semak yang rimbun berada. Bulu kuduk Dewo kembali meremang saat ia menangkap sesosok gadis seperti bayangan hampir transparan berdiri di antara semak-semak sambil tersenyum menatapnya.

Jantung Dewo seolah berhenti berdetak untuk sedetik, namun ia segera tersadar dan balas tersenyum sambil melambai singkat pada sesosok bayangan transparan itu. Dalam hatinya ia berbisik pada dirinya sendiri, “Dia hanya ingin berkomunikasi dan ini rumahnya. Gue harus sopan.”

Setelah itu, rasa dingin dan merinding di tengkuk Dewo-pun perlahan menghilang dan Dewo-pun masuk ke dalam bis dengan tenang. Hanya tinggal satu pertanyaan tersisa di dalam hatinya yang entah kapan bisa ia dapatkan jawabannya, “Jadi, siapa sebenarnya gadis yang mirip dengan Riska tadi malam itu?”...

-08 Nov 2008-

Sunday, 21 September 2008

From Sunset to Sunrise

Pheewww... Can’t believe I made it!! The 6-hour hike to the top of this mountain was a real challenge, especially because I decided to hang out with the guys after work last night, before departing. For a moment back there, I thought I was about to give up and just walk back down.

It was drizzling, at dawn, when I started my walk, which made the ground very, very wet, and in many places, were covered with fresh leaves and small tree branches that fell during the rain.

I kind of wishing that I had postponed this hike, but I knew very well that I had to do it now. Rainy season is already starting, and in a few weeks, rain will fall more often and harder. By then, the sun will surely set and rise behind a veil of cloud and mist, which means, I will lose my chance of recording the sunset and sunrise for my short film project.

My determination was paid off, though, I arrived around lunch time. I’ll quickly set up my tent now and then, start cooking a big meal. I am exhausted. I will eat a big meal now, and have a few hours sleep before sunset. Later in the evening, I can just have some snack or light meal while recording.

Hmmm.. Nice! I’m full and I can feel my eyes are getting heavier. It’s 2 o’clock in the afternoon, I can have a few hours sleep before the sun actually sets. Should I get my equipment ready? Yes, I think I should.

Alright.. my recording equipment is ready. My eyes are really, really heavy now.. My tent feels really, really warm and comfy.. It’s really time tooo.. Zzzzz..zzzz...


The big cricket: What is that giant, strange turtle doing here?

The owl: Ow, cricket! That is not a strange turtle. That is a dome-tent. It’s a human’s nest.

The big cricket: It’s a funny-looking nest. Hey! What is the little monkey doing? He just came out of the dome-tent!

The little monkey: The human inside the dome-tent has a thing that can make a moving picture of us. I saw other humans using it before.

The big cricket: Is he planning on making a moving picture of us?

The little monkey: He must be! Humans like to watch monkeys play, owl catching a prey and crickets rubbing their legs to make sounds. They make the moving picture and then they watch it again, and again, and again. I don’t know why they don’t just live here with us, if they like watching us so much??

The big cricket: If he is going to make a moving picture of us, then, why don’t we save him the trouble? Why don’t we just gather here, so that he can watch us all at the same time? Owl, why don’t you call the others! I’m sure all of us want to be in the moving picture!

The owl: Coockeroo.. Coockeroo.. To all night creatures of this forest mountain.. Let us all gather around for this rare opportunity. A human has come to make a moving picture of us.


The frog: Alright, Owl! I’ve come to answer to your call, but where is the human? I don’t want to be away from the water too long..

The snake: Same here.. I want to go back into my hiding as soon as possible, before the Eagle sees me.

The eagle: What is happening? I’m hungry! If the human doesn’t show up soon, I will have to continue hunting before the sun rises. I don’t have much luck hunting in the broad daylight!

The Leopard: Same here! And I’m starving!

The big cricket: Maybe we should try to wake him up? I can try to make louder sounds with my legs..

The owl: I’ll help.. I can sing louder too..

The frog: I’ll help too..

The snake: I can help tickle his feet, but if he sees me and panics, he can hit me and kill me!

The leopard: Same here! If I, as much as, go inside his tent and try to wake him up, he will think I want to eat him! He will turn me into his meal instead!

The little monkey: Human never hits or kills any monkey who comes into their tents. I will go inside again, and see if I can wake him up and get him to take the moving picture..


Hoooaaaahhhmmmm... What a nice sleep.. I feel refreshed now. I should be ready to wait for the sunset tonight. What time is is? Where is my watch? .. Ahh.. here it is.. let me see..

WHAAATTTT????? 7 O’CLOCK IN THE MORNING???? I SLEPT THROUGH THE NIGHT??? HOW COULD THIS HAPPEN???

The little monkey: screeching fast (I tried to tell you all night, you silly thing! I tried to wake you up!)

I don’t know what you are talking about, Little Monkey.. I don’t speak your language! I think I’ll get out of my tent for a second to get fresh air.

Heeeyyy???? What was going on here? What happened last night? Why are there footsteps of a leopard near my tent?

The little monkey: screeching noisily with arms moving around (We were all here, waiting for you to make the moving picture! Not only the leopard, also the owl, the cricket, the frog, the snake and me.)

Yeah, yeah.. you can finish the biscuits if you like them. I’m packing up to go home. I guess, next time, I shouldn’t hang out with the guys the night before a hike.. Ah well.. I guess I will just have to come back here another day, and in the meantime, I have to find another topic for my project!

-12 December 2007-

Google Search

Google